Tampilkan postingan dengan label Berita Terbaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Terbaru. Tampilkan semua postingan

Memperingati Hari Aksara Nasional, Keluarga sebagai Literasi Media untuk Bantu Kurangi Buta Aksara

KOMPAS.com - Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara", https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/08/23062711/hari-aksara-internasional-literasi-keluarga-bantu-kurangi-buta-aksara.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
 


KOMPAS.com - Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara", https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/08/23062711/hari-aksara-internasional-literasi-keluarga-bantu-kurangi-buta-aksara.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara. Pendampingan keluarga dapat membuat anak menjadi melek aksara. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan mendampingi anak-anak dalam membacakan buku, atau mendongeng bersama. 

Gerakan literasi keluarga memiliki beragam kegiatan. Antara lain literasi baca tulis, yakni keluarga memiliki kemampuan mengakses, memahami, dan mengolah informasi saat membaca dan menulis. Selain itu juga ada ragam Literasi Digital, yaitu kemampuan menggunakan dan mengelola media digital secara bijak, cerdas, cermat, dan tepat untuk berinteraksi serta mendapatkan informasi yang bermanfaat. 

Lantas literasi finansial, yakni kecakapan keluarga dalam mengelola keuangan demi terciptanya kesejahteraan keluarga. Berdasarkan data dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud tahun 2017, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun). Baca juga: Hari Aksara Internasional, Mendikbud Ingatkan Literasi Berbudaya ”Indonesia telah membuktikan keberhasilan dengan mencapai prestasi melebihi target Pendidikan untuk Semua (PUS) Dakar, 23 provinsi sudah berada di bawah angka nasional masyarakat buta aksaranya,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, beberapa waktu lalu. 

Masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf di atas angka nasional yaitu Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen), Kalimantan Barat (4,50 peren), Sulawesi Selatan (4,49 persen), Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen), dan Jawa Tengah (2,20 persen). Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Jika dilihat dari perbedaan gender, tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki dengan jumlah, yakni 1.157.703 orang laki-laki, dan perempuan 2.258.990 orang.

Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara. Pendampingan keluarga dapat membuat anak menjadi melek aksara. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan mendampingi anak-anak dalam membacakan buku, atau mendongeng bersama. Gerakan literasi keluarga memiliki beragam kegiatan. Antara lain literasi baca tulis, yakni keluarga memiliki kemampuan mengakses, memahami, dan mengolah informasi saat membaca dan menulis. Selain itu juga ada ragam Literasi Digital, yaitu kemampuan menggunakan dan mengelola media digital secara bijak, cerdas, cermat, dan tepat untuk berinteraksi serta mendapatkan informasi yang bermanfaat. Lantas literasi finansial, yakni kecakapan keluarga dalam mengelola keuangan demi terciptanya kesejahteraan keluarga. Berdasarkan data dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud tahun 2017, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun). Baca juga: Hari Aksara Internasional, Mendikbud Ingatkan Literasi Berbudaya ”Indonesia telah membuktikan keberhasilan dengan mencapai prestasi melebihi target Pendidikan untuk Semua (PUS) Dakar, 23 provinsi sudah berada di bawah angka nasional masyarakat buta aksaranya,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, beberapa waktu lalu. Masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf di atas angka nasional yaitu Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen), Kalimantan Barat (4,50 peren), Sulawesi Selatan (4,49 persen), Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen), dan Jawa Tengah (2,20 persen). Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Jika dilihat dari perbedaan gender, tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki dengan jumlah, yakni 1.157.703 orang laki-laki, dan perempuan 2.258.990 orang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara", https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/08/23062711/hari-aksara-internasional-literasi-keluarga-bantu-kurangi-buta-aksara.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara. Pendampingan keluarga dapat membuat anak menjadi melek aksara. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan mendampingi anak-anak dalam membacakan buku, atau mendongeng bersama. Gerakan literasi keluarga memiliki beragam kegiatan. Antara lain literasi baca tulis, yakni keluarga memiliki kemampuan mengakses, memahami, dan mengolah informasi saat membaca dan menulis. Selain itu juga ada ragam Literasi Digital, yaitu kemampuan menggunakan dan mengelola media digital secara bijak, cerdas, cermat, dan tepat untuk berinteraksi serta mendapatkan informasi yang bermanfaat. Lantas literasi finansial, yakni kecakapan keluarga dalam mengelola keuangan demi terciptanya kesejahteraan keluarga. Berdasarkan data dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud tahun 2017, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun). Baca juga: Hari Aksara Internasional, Mendikbud Ingatkan Literasi Berbudaya ”Indonesia telah membuktikan keberhasilan dengan mencapai prestasi melebihi target Pendidikan untuk Semua (PUS) Dakar, 23 provinsi sudah berada di bawah angka nasional masyarakat buta aksaranya,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, beberapa waktu lalu. Masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf di atas angka nasional yaitu Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen), Kalimantan Barat (4,50 peren), Sulawesi Selatan (4,49 persen), Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen), dan Jawa Tengah (2,20 persen). Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Jika dilihat dari perbedaan gender, tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki dengan jumlah, yakni 1.157.703 orang laki-laki, dan perempuan 2.258.990 orang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara", https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/08/23062711/hari-aksara-internasional-literasi-keluarga-bantu-kurangi-buta-aksara.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara. Pendampingan keluarga dapat membuat anak menjadi melek aksara. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan mendampingi anak-anak dalam membacakan buku, atau mendongeng bersama. Gerakan literasi keluarga memiliki beragam kegiatan. Antara lain literasi baca tulis, yakni keluarga memiliki kemampuan mengakses, memahami, dan mengolah informasi saat membaca dan menulis. Selain itu juga ada ragam Literasi Digital, yaitu kemampuan menggunakan dan mengelola media digital secara bijak, cerdas, cermat, dan tepat untuk berinteraksi serta mendapatkan informasi yang bermanfaat. Lantas literasi finansial, yakni kecakapan keluarga dalam mengelola keuangan demi terciptanya kesejahteraan keluarga. Berdasarkan data dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud tahun 2017, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun). Baca juga: Hari Aksara Internasional, Mendikbud Ingatkan Literasi Berbudaya ”Indonesia telah membuktikan keberhasilan dengan mencapai prestasi melebihi target Pendidikan untuk Semua (PUS) Dakar, 23 provinsi sudah berada di bawah angka nasional masyarakat buta aksaranya,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, beberapa waktu lalu. Masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf di atas angka nasional yaitu Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen), Kalimantan Barat (4,50 peren), Sulawesi Selatan (4,49 persen), Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen), dan Jawa Tengah (2,20 persen). Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Jika dilihat dari perbedaan gender, tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki dengan jumlah, yakni 1.157.703 orang laki-laki, dan perempuan 2.258.990 orang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara", https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/08/23062711/hari-aksara-internasional-literasi-keluarga-bantu-kurangi-buta-aksara.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara. Pendampingan keluarga dapat membuat anak menjadi melek aksara. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan mendampingi anak-anak dalam membacakan buku, atau mendongeng bersama. Gerakan literasi keluarga memiliki beragam kegiatan. Antara lain literasi baca tulis, yakni keluarga memiliki kemampuan mengakses, memahami, dan mengolah informasi saat membaca dan menulis. Selain itu juga ada ragam Literasi Digital, yaitu kemampuan menggunakan dan mengelola media digital secara bijak, cerdas, cermat, dan tepat untuk berinteraksi serta mendapatkan informasi yang bermanfaat. Lantas literasi finansial, yakni kecakapan keluarga dalam mengelola keuangan demi terciptanya kesejahteraan keluarga. Berdasarkan data dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud tahun 2017, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun). Baca juga: Hari Aksara Internasional, Mendikbud Ingatkan Literasi Berbudaya ”Indonesia telah membuktikan keberhasilan dengan mencapai prestasi melebihi target Pendidikan untuk Semua (PUS) Dakar, 23 provinsi sudah berada di bawah angka nasional masyarakat buta aksaranya,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, beberapa waktu lalu. Masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf di atas angka nasional yaitu Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen), Kalimantan Barat (4,50 peren), Sulawesi Selatan (4,49 persen), Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen), dan Jawa Tengah (2,20 persen). Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Jika dilihat dari perbedaan gender, tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki dengan jumlah, yakni 1.157.703 orang laki-laki, dan perempuan 2.258.990 orang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara", https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/08/23062711/hari-aksara-internasional-literasi-keluarga-bantu-kurangi-buta-aksara.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara. Pendampingan keluarga dapat membuat anak menjadi melek aksara. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan mendampingi anak-anak dalam membacakan buku, atau mendongeng bersama. Gerakan literasi keluarga memiliki beragam kegiatan. Antara lain literasi baca tulis, yakni keluarga memiliki kemampuan mengakses, memahami, dan mengolah informasi saat membaca dan menulis. Selain itu juga ada ragam Literasi Digital, yaitu kemampuan menggunakan dan mengelola media digital secara bijak, cerdas, cermat, dan tepat untuk berinteraksi serta mendapatkan informasi yang bermanfaat. Lantas literasi finansial, yakni kecakapan keluarga dalam mengelola keuangan demi terciptanya kesejahteraan keluarga. Berdasarkan data dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud tahun 2017, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun). Baca juga: Hari Aksara Internasional, Mendikbud Ingatkan Literasi Berbudaya ”Indonesia telah membuktikan keberhasilan dengan mencapai prestasi melebihi target Pendidikan untuk Semua (PUS) Dakar, 23 provinsi sudah berada di bawah angka nasional masyarakat buta aksaranya,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, beberapa waktu lalu. Masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf di atas angka nasional yaitu Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen), Kalimantan Barat (4,50 peren), Sulawesi Selatan (4,49 persen), Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen), dan Jawa Tengah (2,20 persen). Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Jika dilihat dari perbedaan gender, tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki dengan jumlah, yakni 1.157.703 orang laki-laki, dan perempuan 2.258.990 orang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara", https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/08/23062711/hari-aksara-internasional-literasi-keluarga-bantu-kurangi-buta-aksara.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara", https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/08/23062711/hari-aksara-internasional-literasi-keluarga-bantu-kurangi-buta-aksara.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo

Ruwindo Akan Meluncurkan Aplikasi Terbaru

Ruwindo Akan Meluncurkan Aplikasi Terbaru


Rumah Wirausaha Indonesia (Ruwindo) adalah perusahaan yang berasal dari bisnis berbasis Komputer dan Teknologi Informasi sejak tahun 2000 lalu, dalam perkembangannya membuka beberapa unit bisnis yang mampu berkembang pesat dalam perjalanannya. Unit bisnis yang dijalankan adalah : Rumah Software, Scanindo Prima (Document Scanning System), Ticketing & Tour Travel, Rumah Busana dan Pondok Wirausaha serta Wood Working (Pengolahan Kayu). 

Ruwindo  akan segera meluncurkan 6 aplikasi terbaru yaitu Simpel-KS, E-Sakip, E-Administrasi, Om Dikin, Data Center, Sisdupak. Simpel-KS (Sistem Informasi Manajemen Pelaporan Keuangan Sekolah) merupakan aplikasi berbasis dekstop untuk membantu sekolah dalam menyususn dan mengelola laporan keuangan tingkat sekolah. E-Sakip (Elektronik Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) merupakan aplikasi yang digunakan untuk instansi pemerintahan agar memudahkan melakukan evaluasi kinerja yang dilakukan oleh individu pegawai pemerintahan. E-Administrasi (Sistem Informasi Manajemen Layanan Informasi) merupakan aplikasi sistem informasi yang digunakan untuk memudahkan dalam pengiriman surat pada instansi pemerintahan. Data Center merupakan sistem informasi yang bersifat terpadu untuk layanan data dan informasi pendidikan di Kabupaten Malang. Om Dikin atauu E-Absensi adalah aplikasi yang bertujuan untuk memudahkan kegiatan absensi yang dibuat secara elektronik dan akurat. Sisdupak adalah sistem penilaian angka kredit guru.

Maizidah Salas,Mantan TKI Merima Penghargaan dari Pemerintah Amerika Serikat

Mantan TKI Maizidah Salas menerima Sertifikat Penghargaan dari Duta Besar Amerika Serikat Joseph R. Donovan, dalam acara Trafficking In Person (TIP) Heroes Reception and Award Ceremony, di kediaman Dubes AS, Jakarta, Selasa, 4 September 2018.
Pernah menjadi korban perdagangan manusia atau Human Trafficking, tidak membuat Maizidah Salas menyerah. Dia membantu para korban Human Trafficking tersebut sehingga para korban bisa bangkit dari keterpurukan.

Maizidah Salas, seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Amerika Serikat, karena perjuangannya melawan dan membantu para korban perdagangan manusia atau Human Trafficking. 

Maizidah merupakan salah satu dari 10 orang pejuang anti Human Trafficking yang mendapatkan penghargaan berupa Trafficking In Person (TIP) Report Heroes 2018, yang diserahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael R. Pompeo dengan di dampingi oleh Dewan Penasehat Presiden tentang Perdagangan Orang yang juga Putri Presiden AS Donald Trump, yaitu Ivanka Trump, di Washington DC, 28 Juni 2018 lalu.

Bersama teman-temannya yang lain, Maizidah membangun Kampung Migran di Wonosobo dengan tujuan agar para korban perdagangan manusia tersebut, bangkit, bahkan bisa sukses di masa depan. Selain itu dia juga melakukan pendampingan hukum dan melakukan upaya pemulihan trauma bagi para korban.

Maizidah bersama rekan-rekannya dari Serikat Buruh Migran Indonesia aktif melakukan upaya pencegahan perdagangan manusia dengan memberikan pendidikan ke sekolah-sekolah, melakukan sosialisasi kepada masyarakat desa, membuatkan modul, kata Maizidah. Bahkan, ia ikut membantu perancangan Undang-Undang tentang Penempatan dan Perlindungan TKI hingga pembuatan revisi undang-undang tersebut.


“Kami juga mendampingi korban-korban trafficking, baik ketika mereka sedang proses pemulihan maupun pendampingan hukumnya. Kami juga mendampingi korban-korban trafficking dalam hal pemberdayaan ekonomi. Jadi saya mendampingi mereka yang sudah dapat bantuan reintegrasi ekonomi IOM untuk manajemen keuangannya,” ujar Maizidah.Hal itu dia sampaikan saat acara "Trafficking In Persons (TIP) Report Heroes Reception and Award Ceremony" bersama Duta Besar Amerika Serikat Joseph R. Donovan, di kediaman Dubes AS di Jakarta, Selasa (4/9).
Menurutnya, dengan adanya Kampung Migran tersebut, terbukti menurunkan minat warga Wonosobo khususnya untuk menjadi buruh Migran, karena sudah mempunyai pekerjaan atau mempunyai kegiatan yang cukup produktif yang menghasilkan uang. 

“Betul, karena mereka merasa di rumah sudah ada punya kegiatan-kegiatan produktif yang menghasilkan secara finansial. Dan mereka memilih dengan sendirinya untuk tidak pergi keluar negeri dengan menghadapi sejuta kerentanan,” kata Maizidah.Dengan penghargaan ini , Maizidah berharap dapat menginspirasi banyak orang supaya berani memerangi kejahatan perdagangan orang, dan bagi para korban terutama dia berpesan agar bisa bangkit dari keterpurukan, belajar dari pengalaman dan memperjuangkan orang lain, sehingga orang tersebut pun bisa bertahan dan melanjutkan hidup.

Dalam kesempatan yang sama Dubes AS Joseph R. Donovan mengatakan, Maizidah memang layak untuk mendapatkan penghargaan tersebut atas segala perjuangannya.
Dengan apa yang dilakukan Maizidah, menurut Donovan, dapat meningkatkan kesadaran serta kewaspadaan semua pihak untuk bisa mencegah Human Trafficking dan melindungi para korban.
“Dia mendapat penghargaan yang memang beliau sangat layak dapatkan, yang diberikan oleh Menlu Pompeo dan Ivanka Trump. Dan Ibu Maizidah sudah bekerja tanpa lelah untuk memberikan pemberdayaan bagi pekerja, tenaga kerja Indonesia, dan untuk meningkatkan kesadaran, atas human trafficking atau perdagangan manusia, dan beliau merupakan contoh atau panutan bagi kita semua,” kata Donovan.

Selain itu, Pihaknya juga mengapresiasi upaya Pemerintah Indonesia untuk memerangi perdagangan manusia tersebut. Menurutnya dibutuhkan kerja sama dari semua pihak agar hal ini jangan sampai terulang kembali. Donovan juga memastikan bahwa kedepan pihaknya berkomitmen untuk senantiasa memerangi Human Trafficking tersebut.

“Dan kami juga memuji upaya yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, untuk meningkatkan kesadaran, untuk menangkap dan memproses pelaku perdagangan manusia, juga melindungi para korban perdagangan manusia. Dan Amerika Serikat terus berkomitmen untuk bekerja sama dengan mitra-mitra kami untuk memerangi human trafficking atau perdagangan manusia,” kata Donovan.

Sumber : https://www.voaindonesia.com/a/mantan-tki-maizidah-salas-terima-penghargaan-dari-pemerintah-as/4558317.html

UGM Mendapatkan Akreditasi Internasional di 4 Program Studi

Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta-Universitas Gadjah Mada (UGM) semakin mengokohkan diri sebagai lembaga pendidikan berstandar global.

Belum lama ini empat program studi jenjaang sarjana mendapat akreditasi dari lembaga internasional Accreditation Board for Engineering Education (ABET).

Prestasi ini menyusul 16 program studi (prodi) lain yag juga sudah mendapat akreditasi internasional.

“Empat program studi itu masing-masing prodi S1 Teknik Sipil, S1 teknik Geodesi, dan Teknik Mesin, dan dari Fakultas Teknologi Pertanian, yaitu prodi S1 Teknologi Industri Pertanian,” tutur Kepala Kantor Jaminan Mutu UGM, Prof Indra Wijaya Kusuma, Senin 3 September 2018.

Tiga prodi mendapatkan akreditasi penuh sampai dengan 2024 dan satu prodi mendapatkan akreditasi sampai dengan 2019, dengan keharusan menyampaikan laporan perkembangan peningkatan mutu tanpa visitasi pada tahun 2019 untuk mendapatkan status terakreditasi penuh sampai dengan tahun 2024.
“Persiapan program studi untuk bisa mengajukan akreditasi ABET sudah dimulai sejak 2015. Yakni denga mengimplementasikan sistem pendidikan berbasis luaran (OBE) secara sistematik sehingga banyak sekali perubahan yang dilakukan terutama dalam desain kurikulum dan proses asesmen hasil pembelajaran, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh ABET,” tuturnya.

Menurut Indra, dengan hasil akreditasi internasional ini maka telah terealisasi kesesuaian dan pengakuan internasional terhadap program studi di UGM. Ini juga sebagai bentuk akuntabilitas sistem pembelajaran kepada masyarakat, peningkatan mutu berkelanjutan dan pencapaian target UGM dalam rangka merealisasikan visi UGM sebagai perguruan tinggi pelopor kelas dunia.

ABET adalah lembaga akreditasi bidang ilmu teknik dan teknologi yang paling prestisius yang berbasis di Amerika Serikat

Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1335557/144/empat-program-studi-ugm-dapat-akreditasi-internasional-1536052069

Dorongan Harus di Berikan Kepada Dosen Untuk Melakukan Jurnal Ilmiah

epala Pusat Penelitian Universitas Mercu Buana, Devi Fitrianah saat mengikuti kegiatan Pekan Penelitian Universitas Mercu Buana di Kampus UMB Meruya, Jakarta

Jakarta - Penelitian di kalangan dosen terus digencarkan di lingkungan kampus. Terlebih kini ada bantuan yang diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Bantuan ini dirasakan cukup membantu para dosen untuk melakukan penelitian dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah lokal mau pun internasional. "Bantuan yang diberikan Kemenristekdikti sangat bermanfaat bagi dosen yang kampusnya mendapatkan blockgrant untuk penelitian," kata Kepala Pusat Penelitian Universitas Mercu Buana, Devi Fitrianah kepada wartawan di sela-sela kegiatan Pekan Penelitian Universitas Mercu Buana di Kampus UMB Meruya, Kamis (30/8/2018).

Diperhelatan yang berlangsung 27-31 Agustus 2018 ini, ada sebanyak 50 penelitian dari 12 bidang keilmuan karya dosen-dosen UMB yang dipresentasikan. Penelitian tersebut merupakan karya dosen muda, dosen madya, dan dosen prima UMB yang dipilih dari 720 proposal penelitian.

"Untuk seminar diseminasi penelitian sebenarnya sudah dilakukan UMB setiap tahun, tapi agar lebih terdengar gaungnya maka kita buatlah event Pekan Penelitian dengan mengundang dosen-dosen PTS se-LL DIKTI Wilayah III. Alhamdulilah ada 17 perwakilan perguruan tinggi lain yang hadir," tutur Devi.

Baca juga : Prestasi Membanggakan Anak Bangsa di Dunia Internasional

Menurut doktor Ilmu Komputer lulusan Universitas Indonesia ini, selain 50 penelitian yang dipresentasikan secara oral, ada juga 100 poster penelitian yang dipamerkan dalam Pekan Penelitian tersebut. Sementara juri yang akan menilai penelitian adalah juri independen yang tidak terlibat dalam penelitian yang dipresentasikan, di samping juri internal dari UMB sendiri.

Hasil penelitian dari Pekan Penelitian Universitas Mercu Buana seluruhnya telah dipublikasikan ke dalam jurnal-jurnal ilmiah, baik yang berskala lokal, nasional maupun internasional.

"Karena sifatnya diseminasi, tentu saja hasil penelitian dari kegiatan ini sudah dipublikasikan ke dalam jurnal-jurnal ilmiah. Bahkan, ada sebuah penelitian yang sudah diterbitkan dalam jurnal internasional bergengsi Scopus," terang Devi.

Hingga sekarang, lanjut dia, Universitas Mercu Buana mempunyai 352 jurnal ilmiah yang telah terpublikasi. Jumlah ini surplus 130% dari yang ditargetkan antara 200-300 publikasi. "Kemungkinan sampai akhir tahun akan bertambah lagi," katanya.

Ke depannya, UMB akan fokus untuk menghilirisasi atau mengomersialisasikan hasil penelitian dosen-dosennya sesuai imbauan Kemenristekdikti ke dalam Rencana Induk Penelitian (RIP).

"Alhamdulillah sejak 2016, UMB sudah dimasukkan ke dalam Klaster Utama oleh Kemenridstekdikti. Konsekuensinya, UMB mendapat kenaikan blockgrant atau hibah penelitian hinggga Rp5 miliar dari sebelumnya hanya Rp1 miliar. Di samping itu, UMB sendiri tahun ini telah mengeluarkan dana penelitian sebesar Rp4,2 miliar," sebutnya.

"Jumlah ini di luar insentif bagi dosen yang hasil penelitiannya dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah," kata Devi Fitrianah seraya menambahkan, dana publikasi ke jurnal ilmiah per penelitian bisa mencapai Rp16 juta. Sedangkan maksimal yang bisa didanai sebanyak delapan penelitian dalam satu tahun," pungkasnya.

Yang jelas lanjut Devi, penelitian yang dipublikasikan sangat bermanfaat bagi dosen. "Mereka bisa mengajukan kenaikan jabatan dengan bukti publikasi ilmiahnyam, tanpa itu jangan harap ada kenaikan jabatan," pungkasnya. 
 
Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1334441/15/dosen-harus-didorong-lakukan-penelitian- untuk-jurnal-ilmiah-1535646439

Jadwal Pertandingan Pebulu Tangkis Indonesia di Asian Games 2018

Jakarta - Perjuangan pebulu tangkis Indonesia akan berlanjut di babak kedua cabang bulu tangkis Asian Games 2018. Namun aksi atlet nasional ini dipastikan tidak mudah mengingat lawan berat sudah menghadang.

Pertandingan akan dimulai pukul 13.00 WIB di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (25/8/2018). Di tunggal putri, Fitriani akan langsung bertemu dengan Saina Nehwal yang selama ini jadi andalan India.

Hal yang sama juga akan dialami Anthony Sinisuka Ginting. Setelah membuat cerita heroik di nomor beregu, Anthony akan coba menghadang Kento Momota dari Jepang.

Berikut ini jadwal pebulu tangkis Indonesia yang akan berlaga di babak kedua cabang bulu tangkis Asian Games 2018 :

Baca : Tim Nasional Bridge Indonesia Optimistis Raih Emas
Tunggal Putri Saina Nehwal (India) vs Fitriani
Gregoria Mariska Tunjung vs Pusarla V Sindhu (India)

Ganda PutriTang Jinhua/Zheng Yu (China) vs Greysia Polii/Apriyani Rayahu

Tunggal PutraJonatan Christie vs Khosit Phetpradab (Thailand)
Anthony Sinisuka Ginting vs Kento Momota (Jepang)

Ganda PutraFajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto vs Kim Won Ho/Seo Seung Jae (Korsel)
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo vs Takuto Inoe/Yuki Kaneko (Jepang)

Ganda CampuranTontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah (Hong Kong)
Sumber : https://sports.sindonews.com/read/1332964/51/jadwal-pertandingan-pebulu-tangkis-indonesia-di-asian-games-2018-1535166201

Idul Adha, Anies: Peringatan Penting Bagi Pendidikan Keluarga


Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, perayaan Idul Adha harus jadi pengingat tentang sejarah Nabi Ibrahim yang ikhlas mengorbankan anaknya Nabi Ismail untuk memenuhi perintah Allah SWT.

"Peristiwa yang terjadi 5 ribu tahun lalu masih dikenang dan dijadikan pelajaran. Oleh karena itu, saya melihat peringatan Idul Adha merupakan peringatan penting bagi pendidikan keluarga, bagi pendirikan anak-anak sesuatu yang seringkali kita terlewat membicarakan," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (22/8/2018).

Menurut Anies, Idul Adha juga diharapkan menjadi momen keakraban sosial. Dengan adanya Idul Adha, masyarakat yang belum sejahtera bisa merasakan nikmatnya daging yang tak bisa dinikmati dalam kehidupan sehari-harinya.

"Bagaimana kurban ini jadi santapan warga yang belum sejahtera untuk merasakan kenikmatan makan enak di hari Lebaran Idul Adha," kata dia.

Sementara bagi masyarakat yang sudah mampu untuk berkurban, menurut Anies, bisa dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur serta menumbuhkan jiwa pengorbanan di dalam dirinya.

"Ini satu peringatan bagi kita bahwa yang kita cita-citakan harus siap kita kurbankan kepada yang berhak," kata Anies. 

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini juga mendoakan agar warga Ibu Kota Jakarta yang sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci mendapatkan 'haji mabrur' dan memberikan manfaat kepada masyarakat lainnya.

"Warga Jakarta yang saat ini menunaikan ibadah haji di Makkah, mereka berada di Tanah Suci jauh dari Tanah Air, saya ingin ucapkan selamat telah mentuntaskan ibadah haji dan hajinya mabrur," doa Anies.

Sumber : https://metro.sindonews.com/read/1332203/171/idul-adha-anies-peringatan-penting-bagi-pendidikan-keluarga-1534915274

Prestasi Membanggakan Anak Bangsa di Dunia Internasional

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional terus berkomitmen mengikutsertakan siswa-siswa terbaik bangsa untuk mengikuti ajang Olimpiade Internasional.Kompetisi ini dinilai sangat strategis menemukan bakatbakat terpendam di seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, olimpiade juga mampu menumbuhkan jiwa kompetisi dalam diri bangsa Indonesia untuk bersaing di dunia internasional. Ajang ini bahkan menjadi sarana mengomunikasikan Indonesia pada negara lain.

Kemenangan dalam berbagai olimpade dapat menunjukkan kualitas bangsa kita yang sebenarnya sehingga menghilangkan anggapan bahwa Indonesia adalah bangsa kurang dalam ilmu pengetahuan. Di tahun 2018 ini, para peserta olimpiade Internasional asal Indonesia, meraih kemenangan demi kemenangan yang membanggakan.

Salah satunya, dalam Olimpiade Matematika Internasional atau International Mathematical Olympiad (IMO) ke-59 tahun 2018 di Cluj- Napoca, Rumania, pada 4-14 Juli 2018, peserta kita berhasil menyabet enam medali, yang terdiri dari satu medali emas dan lima medali perak. Medali emas diraih oleh Gian Cordana Sanjaya (siswa SMAK Petra 1 Surabaya), sementara medali perak diraih oleh Valentino Dante (SMAK 2 Petra Surabaya), Farras Mohammad Hibban Faddila (SMAK Kharisma Bangsa), Kinantan Arya Bagaspati (SMA Taruna Nusantara), Al!an Edgar Tjandra (SMA Kharisma Bangsa), dan Otto Alexander Sutianto (SMAK Penabur Gading Serpong).

Pada International Biology Olympiad (IBO) ke - 29 yang berlangsung di Teheran, Iran, 15-22 Juli 2018 lalu, Indonesia yang diwakili 4 siswa berhasil membawa pulang 4 medali perak.Kompetisi International yang diikuti oleh 265 peserta dari 78 negara, merupakan ajang kompetisi bagi pelajar setingkat sekolah menengah di bawah usia 20 tahun dari seluruh dunia yang meliputi tes teori dan praktikum. Keempat siswa peraih medali perak tersebut adalah Syailendra Karuna Sugito (Siswa Kelas XII, SMA Semesta BBS Semarang, Jawa Tengah), Silingga Metta Jauhari (Siswa Kelas XII, SMAN 8 DKI Jakarta), Samuel Kevin Pasaribu (Siswa Kelas XI, SMA Unggul Del, Sumatera Utara), Aditya David Wirawan (Siswa Kelas X SMAK 1 Petra Surabaya, Jawa Timur).

Kemenangan juga diraih pada kompetisi Kimia, yaitu The 50th IChO (International Chemistry Olympiad/IChO) yang ditutup pada 28 Juli 2018 di Rudol!num, Praha, Republik Ceko.Pada kompetisi itu, siswa Indonesia berhasil meraih 1 medali emas, 1 medali perak dan 2 medali perunggu. Medali emas diraih oleh Ong, Christoper Ivan Wijaya, SMA Kristen YSKI, Semarang, Jawa Tengah Medali Perak diraih oleh Abdullah Muqaddam, MAN Insan Cendekia Serpong, Banten Sementara Medali Perunggu diraih oleh: Rizki Kurniawan, SMAN 1 Kota Metro, Lampung Muhammad Syaiful Islam, SMA Cindera Mata Kota Bekasi, Jawa Barat. Tim Olimpiade Fisika menambah deretan raihan emas beruntun untuk Indonesia dalam kancah olimpiade sains internasional 2018.

Siswa Indonesia sukses membawa pulang satu medali emas, satu perak, dan tiga perunggu dalam kompetisi International Physics Olympiad (IPhO) ke-49 yang digelar di Lisbon, Portugal pada 21-29 Juli 2018. Medali emas untuk Indonesia dipersembahkan oleh Johanes Suhardjo (SMAK Frateran Surabaya).

Medali perak diraih oleh Jason Jovi Brata (SMAK 1 BPK Penabur Jakarta), dan tiga medali perunggu dikumpulkan oleh Ahmad Aufar Thoriq (SMA Semesta BBS Semarang), Bryant Juspi (SMA Darma Yudha Pekanbaru), serta Raditya Adhidarma Nugraha (SMAN 1 Yogyakarta).
 

Prestasi membanggakan selanjutnya yakni Tim Olimpiade Geogra! yang sukses meraih empat medali yakni dua medali perak dan dua perunggu dalam 15th International Geography Olympiad (IGeO) 2018 di Quebec City, Kanada. Raihan ini berhasil membawa Indonesia naik ke peringkat 9 (sembilan) dunia dari 43 negara kontestan IGeO, setelah sebelumnya pada tahun 2017 Indonesia berada di peringkat ke-12. Dua medali perunggu Indonesia dipersembahkan oleh Fernando (SMA Sutomo 1 Medan) dan M. Nadafa Isnain (SMA Kesatuan Bangsa Yogyakarta). 

Sedangkan dua perunggu diraih oleh Rizky Amalia Wulandari (SMA Kharisma Bangsa Tangsel) dan Jamal Habibur Rahman (SMA Taruna Nusantara Magelang) Tim Debat Indonesia yang telah berpartisipasi dalam World School Debating Championship (WSDC) atau kejuaraan debat (bahasa Inggris) tingkat dunia tahun 2018 di Zagreb, Kroasia sejak tanggal 17 -27 Juli 2018 lalu juga tampil membanggakan.

Bersaing dengan 66 negara, (60 peserta, 6 pengamat) tim Indonesia melewati 8 babak penyisihan. Tim Indonesia diwakili oleh Muhammad Zufar Farhan Zuhdi (Kelas XII, SMAN 8 Yogyakarta), Kelly Laurecia (Kelas XI, SMAK 1 Penabur Jakarta), Evelyn Mulyono (Kelas XII, SMAK Immanuek Pontianak), Cassia Tandiono (Kelas X SPH Kemang Village), dan Swanny Wijaya (Kelas XI SMA Sutomo 1 Medan).
 
Terkait prestasi gemilang ini, Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas Drs. Purwadi Sutanto menyatakqn apresiasi yang tinggi. Kemenangan ini menurutnya menjadi bukti bahwa pelajar-pelajar Indonesia potensial dan tidak kalah dengan pelajar lain dari negara-negara maju dunia.

"Ini adalah prestasi luar biasa yang dipertontonkan anak-anak kita, membanggakan kita semua, membanggakan Indonesia, dan patut kita syukuri," kata Purwadi. Sebagai generasi bangsa di era milineal, lanjut Purwadi, mereka perlu dibimbing dan diarahkan sebagai calon-calon pemimpin masa depan.

“Harus kita pupuk dan arahkan prestasi-prestasi internasional seperti ini. Ini adalah tahun emas bagi Indonesia, setelah sebelumnya tim matematika juga mendulang emas, ini sangat luar biasa, dan semoga kembali terulang pada bidang-bidang sains lainnya,” Harap Pak Direktur. Hal senada disampaikan Kasubdit Peserta Didik, Suharlan SH, MM menyampaikan, prestasi menakjubkan ini menjadi hadiah manis jelang ulang tahun kemerdekaan Indonesia.

"Ini adalah kado manis HUT RI ke-73 dan sudah ada tiga tim olimpiade yang bawa pulang emas. Sungguh luar biasa dan membanggakan kita semua, sebagai salah satu upaya diplomasi kebudayaan di dunia internasional bahwa Indonesia mampu berbicara di tingkat dunia dalam bidang pendidikan.

Prestasi ini harus menjadi tradisi sains yang kita kembangkan terus menerus sekaligus memupuk semangat nasionalisme kebangsaan kita di even internasional.” Jelas Suharlan. Suharlan yang sudah sejak tahun 2005 malang melintang dalam pelaksanaan olimpiade sains ini, sangat mengapresiasi upaya pelajar Indonesia dalam mengharumkan nama Indonesia.

“Semangat nasionalisme dan kebangsaan harus terus kita pelihara dengan baik dalam event apapun. Target prestasi harus diraih dengan semangat, kerja keras, tidak putus asa dan percaya diri menghadapi lawan-lawan tangguh. Semoga kedepan prestasi yang kita raih ini tetap dipertahankan dengan evaluasi dini terkait kekurangan-kekurangan yg ada," tutup Suharlan. 

Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1330804/144/prestasi-membanggakan-anak-bangsa-di-dunia-internasional-1534391347/13

Hary Tanoesoedibjo Dorong Peningkatan Kesejahteraan Guru



Ketua Umum DPP Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) menerima Forum Guru Non-PNS Se-Jawa Barat di MNC Tower, Jakarta, kemarin.


Dalam pertemuan itu, HT dan  para pendidik mendiskusikan tentang persoalan kesejahteraan guru. “Kami berdiskusi bagaimana meningkatkan kesejahteraan guru non-PNS di Jawa Barat dan Indonesia,” ungkap HT seusai pertemuan tersebut. Menurut dia, pembentukan koperasi bisa menjadi salah satu langkah efektif untuk menyejahterakan guru non-PNS di Tanah Air. 



“Saya usulkan kita buat koperasi yang visi-misinya produktif untuk anggotanya. Saya akan bina dan ada kegiatan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan guru non-PNS,” tandas pria asal Surabaya, Jawa Timur itu.


Baca juga : Pemerintah Tak Pernah Larang Mahasiswi Bercadar


Dia mengatakan, kesejahteraan guru harus mendapat perhatian penting karena menyangkut masa depan pendidikan nasional dan masa depan generasi muda Indonesia. Seperti diketahui, banyak guru terutama non-PNS yang terpaksa kerja serabutan seusai mengajar untuk menambah penghasilan. Hal itu berdampak pada kondisi fisik dan psikis sang guru sehingga memengaruhi kualitas mengajar di sekolah.
“Indonesia bisa maju kalau murid mudah dan murah sekolah sampai perguruan tinggi. 
Di sisi lain, kesejahteraan guru memadai supaya bisa fokus memberi pengajaran maksimal,” kata HT yang telah memberikan pengajaran di lebih dari 160 perguruan tinggi dari Sabang sampai Merauke.



Ketua Umum Forum Guru Non-PNS Se-Jawa Barat Dikdik Rohimat mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada HT yang memberikan perhatian besar kepada guru non-PNS, khususnya di Jawa Barat. “Kemarin kita mencoba menghubungi Pak Hary, alhamdulillah, beliau merespons sangat baik sekali. Pak Hary memberikan berbagai macam program wirausaha untuk kita, para guru non-PNS se-Jawa Barat,” ungkapnya. Dia berharap program-program yang digagas HT tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga bisa lebih fokus dalam mengajar ke depan.



“Mudah-mudahan masyarakat Jawa Barat meningkat mutu pendidikannya dengan fokusnya guru-guru mengajar setelah mereka mendapatkan kesejahteraan yang layak,” harap Dikdik.


Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1328336/144/hary-tanoesoedibjo-dorong-peningkatan-kesejahteraan-guru-1533614647

Pemerintah Tak Pernah Larang Mahasiswi Bercadar

Pemerintah Tak Pernah Larang Mahasiswi Bercadar

Jakarta - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir menyatakan, pemerintah tidak pernah melarang pemakaian cadar bagi mahasiswi di kampus.

Kebijakan pelarangan itu, menurut dia, merupakan kewenangan atau otoritas sepenuhnya kampus. Mantan Rektor Universitas Diponegoro ini mengatakan, pemerintah hanya melarang jika ada unsur radikalisme yang berkembang di dalam kampus.

“Larangan mahasiswi bercadar bagi saya hak seseorang. Radikalisme yang kami larang. Tentang mereka berpakaian, laki-laki mau pakai kopiah, ya silakan, asal memenuhi etika. Itu (larangan ber cadar) saya serahkan kepada perguruan tinggi,” tandas Nasir di Jakarta kemarin.


Nasir menekankan, jangan sampai perguruan tinggi melakukan diskriminasi, baik kepada mahasiswa maupun dosen. Menurut dia, di lingkungan kampus harus hidup berdampingan antarsesama manusia, suku, dan agama apa pun. Siapa pun, ujarnya, harus mendapatkan haknya hingga berhak mendapat proses pembelajaran.

Karena itu, sekali lagi dia menekankan bahwa larangan bercadar ini diserahkan sepenuhnya kepada kampus. Jika memang ada indikasi radikalisme yang terjadi di kampus, maka Kemenristek Dikti akan memanggil langsung rektornya.

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) akan mengawasi kampus yang melakukan pembinaan terhadap mahasiswi bercadar. Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan, apa yang dilakukan kampus dengan melarang mahasiswi bercadar, seperti yang dilakukan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lebih disebabkan adanya kekhawatiran mahasiswi akan terpenetrasi ideologi tertentu.

Meski ada hak otonomi kampus, Kemenag tetap akan mengawasi pembinaan itu. Ka maruddin mengatakan, meski Kemenag mendukung adanya pembinaan, dia menggarisbawahi bahwa kebijakan setelah pembinaan kepada mahasiswi itu akan dilihat lagi dasar dan argumennya. Selain itu, kampus juga harus membuktikan dulu apa benar mahasiswi itu terpenetrasi ideologi tertentu

Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1287527/144/pemerintah-tak-pernah-larang-mahasiswi-bercadar