Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan

Kemhan: Kampus Berperan Penting Dalam Membentuk Karakter Bangsa



Jakarta - Lingkungan pendidikan dan rumah memiliki peran yang sangat kuat dalam membentuk karakter bangsa. Sementara tumpuan ketahanan nasional bersumber dari ketahanan pribadi dan keluarga.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kementerian Pertahanan (Kemhan) Provinsi DKI Jakarta Brigjen TNI Adi Sudaryanto saat berbicara pada kuliah umum Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru Universitas Darma Persada (Unsada) Jakarta.

"Pembentukan karakter itu adalah proses tanpa henti," ujar Brigjen Adi Sudaryanto dalam siaran pers yang diterima pada hari Jumat (7/9/2018).

Brigjen Adi Sudaryanto menegaskan, karakter bangsa yang baik akan mampu mewujudkan ketahanan nasional yang baik pula. Sayangnya, kata dia, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat di Indonesia cenderung kehilangan karakter bangsa yang baik tersebut.


Ada kecenderungan masyarakat menjadi sosok yang pemarah, kasar, egois, kurang toleran, dan kurang rasa kepedulian serta kebersamaan. "Sederhananya, senang liat orang susah dan susah lihat orang senang," katanya.

Untuk itu, Adi sangat berharap lembaga pendidikan dan rumah hendaknya berperan secara aktif dalam menyiapkan pembentukan karakter yang kuat terhadap individu anak bangsa.

"Peran orang tua dan pendidik sangat dominan dalam menanamkan dasar pembentukan karakter anak," ujarnya.

Rektor Unsada Dadang Solihin, sepakat lembaga pendidikan memiliki peran yang kuat untuk menumbuhkan karakter bangsa yang kuat kepada generasi muda.

Itulah sebabnya dalam kegiatan ini pihaknya memberikan stimulus kepada para mahasiswa baru untuk lebih menyadari karakter individu mereka untuk berperan penting bagi terwujudnya karakter bangsa.

"Kegiatan ini menjadi bagian kecil untuk bisa mendorong generasi muda yang berkarakter dan siap menjadi pemimpin masa depan," pungkasnya. 

Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1336625/15/kemhan-kampus-berperan-penting-dalam-membentuk-karakter-bangsa-1536337715

Masa Depan Generasi Milenial di Pendidikan Politik





Dunia politik dan media sosial pada era industri 4.0 tidak dapat dipisahkan begitu saja. Sebelum pemilihan calon, baik di tingkat wilayah maupun daerah, proses memperkenalkan masing-masing kandidat lebih banyak menggunakan saluran media sosial. Sasarannya adalah pemilih milenial yang memang secara literasi dalam menilai putusan politik tersadarkan melalui media sosial.

Jumlah generasi milenial ini dianggap memiliki potensi yang besar. Bahkan, menurut komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pramono Ubaid Tanthowi, pemilih milenial ini sebagai penentu siapa pemimpin pada masa mendatang. Menurut data KPU, jumlah pemilih muda mencapai 70 juta–80 juta dari sekitar 193 juta pemilih. Artinya, mencapai 35–40% yang memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu.

Data lain ditampilkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2017 berdasarkan hasil survei terdapat 143,26 juta jiwa pengguna Internet. Ada 54,68% dari seluruh penduduk di Indonesia sebagai pengguna internet. Selanjutnya APJII merinci bahwa pengguna internet untuk penduduk di perkotaan berada di angka 72,41%.


Baca juga : 5 Fakta Menarik Tentang Pendidikan Anak Usia Prasekolah

Sementara penduduk pinggiran kota sebesar 49,49% dan perdesaan 48,25%. Jika ditilik dari sisi gender, pengakses internet terbesar adalah laki-laki dengan angka 51,43%.

Yang menarik dalam hasil survei itu, dalam temuannya disebutkan bahwa pengguna internet terbesar di kisaran usia 19 sampai 34 tahun, atau sebesar 49,52%. Namun, yang mengejutkan lagi presentasi pengguna terbanyak adalah usia di rentang 13 sampai 18 tahun yang mencapai 75,5%. Dengan hanya melihat foto, video, dan berita melalui mesin pencari dan bantuan sosial media mereka sudah memperoleh informasinya lewat ponsel cerdas.

Berpijak dari data di atas, sudah barang tentu partai politik (parpol) berebut pengaruh untuk mendulang suara-suara mereka. Dengan mengemas kandidat secara populer, generasi zaman now dianggap menjadi penentu seberapa jauh jangkauan informasi masing-masing kandidat dapat diterima secara pasti jati dirinya. Bagaimana rekam jejaknya, apakah pernah terlibat masalah atau tidak bermula dari informasi ini.

Fokus Perhatian
Data-data tersebut tentu saja dapat berubah sewaktu-waktu baik secara demografis maupun psikografis. Pastinya yang jauh lebih penting dari hal ini adalah fokus perhatian (focus of interest) pada pendidikan politiknya yang bermartabat. Sampai detik ini isu-isu tidak sehat (hoaks) masih bergentayangan di jagat media sosial. Hal yang merisaukan adalah ketika konten-konten yang ditampilkan memanfaatkan isu SARA yang sudah tidak dapat ditoleransi lagi.

Masih ada sebagian dari masyarakat (netizen) kita yang menilai sesuatu dari siapanya ketimbang apanya (gagasan). Awalnya masih suatu persoalan yang sederhana karena disisipi candaan dan gurauan biasa. Namun, dalam perjalanannya persoalan yang sederhana itu menjadi rumit (complicated).

Timbul perselisihan yang menyebabkan berbeda cara pandang untuk membedahnya, baik secara ideologi dan keilmuan, yang pada akhirnya muncul pertikaian yang hasilnya nihil jauh dari verifikasi. Sulit bagi masyarakat untuk mencari makna yang dapat didiskusikan bersama dengan wawasan yang sehat. 

Antara fakta dan kebenaran sulit dibedakan. Padahal fakta bermakna sesuatu yang sudah dilakukan. Hasilnya itu dipersepsi oleh manusia yang memiliki kemampuan untuk mencerap informasi dalam realitas empirik. Sementara itu, kebenaran berisi tentang pernyataan-pernyataan yang dapat dibuktikan dan dicek oleh siapa pun. Dua hal ini sejatinya berisi informasi yang bermakna, tapi kenyataannya direspons dengan cara berpikir artifisial. 

Kondisi semacam itu bisa dilatarbelakangi oleh keterbatasan data empiris karena wawasan empiris bersifat sementara dan terbatas. Di samping itu, persoalan yang makin menumpuk membuat fokus perhatian menjadi terpecah-pecah. Dalam kesempatan lain, hal ini disebabkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang ingin memanfaatkan kebebasan informasi untuk kepentingan politik tertentu.

Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi, hendaknya generasi milenial mampu membedakan informasi yang akurat dan tidak. Pendidikan politik melalui media sosial bagian dari membuat batas kemampuan dalam konteks komunikasi antara bahasa sendiri dan bahasa dunia.

Jika tidak mampu mengenal ini yang terjadi bahasa sebagai bahasa fungsi informatif  berubah menjadi fungsi rasa yang diekspresikan dengan bahasa bahagia, kebencian, hujatan, dan sebagainya. Kendati undang-undang telah mengeluarkan bahasa direktif dalam bentuk larangan (hukum) sampai saat ini ujaran kebencian (hate speech) masih terus berlangsung.    

Berpikir Dikotomik       

Wawasan politik generasi milenial hari ini adalah gambaran politik pada masa depan. Pendidikan politik yang sehat adalah bagaimana mengantisipasi kejenuhan politik hari ini yang dapat merusak pendidikan politik generasi milenial. Akal budi merupakan dasar wawasan politik yang dapat menuntun generasi milenial dalam mengungkapkan ekspresi politiknya.

Sudah saatnya bahasa politik yang didasari berpikir dikotomik direvisi menjadi bahasa politik yang tandas serta objektif dengan pendekatan yang holistik. Modus berpikir dikotomik ini sebetulnya dapat dilihat dari bahasa generasi milenial yang saling berseteru di dunia online.

Modus ini sangat merugikan karena menganggapnya ada kutub yang selalu berlawanan (Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, 2007). Padahal kebenaran objektif memuat sesuatu yang jelas dan terpilah. Mirip dengan cara pandang Cartesian yang mekanistik, dengan kata lain fenomena sosial dunia online dimaknai secara deterministik.         

Dampaknya efek viral media sosial yang masuk kamar politik tak lebih sebagai rencana organis untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Ada semacam pergeseran informasi dari kualitas isi menuju kuantitas yang ditargetkan. Jika hal ini terus dibiarkan, model berpikir dikotomik dapat menghegemoni kreativitas berpikir holistik yang seharusnya perlu dimiliki generasi milenial untuk membaca fenomena sosial secara kritis.

Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1333275/18/masa-depan-pendidikan-politik-generasi-milenial-1535304590/13

5 Fakta Menarik Tentang Pendidikan Anak Usia Prasekolah


Jakarta-Pendidikan tentunya menjadi salah satu faktor penting yang turut serta dalam membangun kepribadian individu. Hampir setiap harinya anak pergi ke sekolah untuk belajar berbagai hal dan bersosialisasi dengan anak lainnya. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam membangun hubungan sosial dan emosional anak.

Selain itu, pendidikan juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan masa depan bangsa. Dengan pendidikan yang baik tentunya diharapkan dapat menghasilkan generasi bangsa yang baik pula.

Setiap negara memiliki sistem pendidikan yang berbeda. Harapan orangtua untuk anak di setiap negara pun berbeda. Hal itu dipengaruhi oleh kebudayaan, agama, dan iklim dari negara tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh Benesse Educational Research and Development (BERD) Institute pada 4 negara (Indonesia, Jepang, China, dan Finlandia), terdapat 5 fakta menarik terkait Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu :


1. Fakta Terkait Waktu Bangun Tidur Anak

Ternyata, sebagian besar anak-anak di Indonesia terbiasa bangun tidur lebih awal sekitar pukul 05.30 hingga pukul 06.00. Alasannya karena Indonesia memiliki banyak kegiatan di pagi hari dan bagi anak-anak pemeluk agama islam harus melakukan sholat subuh.

Pada hari biasa, anak Indonesia yang bangun tidur sebelum pukul 05.30 mencapai 11,1% dan yang bangun pada pukul 06.00 mencapai 31,9%.

Sementara itu, anak-anak di tiga negara lainnya (Jepang, China, dan Finlandia) yang bangun tidur pada pukul 05.30 kurang dari 3%. Anak-anak di tiga negara tersebut lebih banyak bangun tidur pada pukul 07.00

2. Fakta Terkait Waktu yang Dihabiskan di PAUD

Hasil survei mengungkapkan bahwa 89,8% anak Indonesia menghabiskan waktu kurang dari 4 jam di PAUD. Itu artinya, lebih singkat dibandingkan dengan anak-anak dari negara lain yang sebagian besar menghabiskan waktu di PAUD lebih dari 8 jam. Hal itu dikarenakan banyak orang tua di ketiga negara tersebut adalah wanita pekerja.

3. Fakta Terkait Mengasuh Anak dari Perspektif Ibu

Bagi Ibu di Indonesia, ada tiga hal yang memerlukan usaha paling besar dalam mengasuh anak. Pertama, yaitu menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, seperti menyikat gigi, mandi, dan kebiasaan lainnya. Selanjutnya, usaha menjaga kesehatan tubuh dan main bersama orang tuanya.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh BERD, anak-anak yang menguasai kebiasaan hidup pada usia 3-4 tahun akan memiliki kemampuan sosial emosional yang lebih baik pada usia 4-5 tahun. Kemampuan sosial emosional itu berhubungan dengan perkembangan aspek kognitif seperti huruf, angka, dan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, menanamkan kebiasaan hidup sejak dini sangat penting untuk mengembangkan aspek kognitif dan afektif anak.

4. Fakta Terkait Harapan Orang Tua Terhadap Masa Depan Anak

Para Ibu di Indonesia mengharapkan anaknya menjadi orang yang menyayangi keluarga dengan presentase sebesar 75,8 persen. Harapan ini serupa dengan ibu di negara lainnya, kecuali Jepang.

Sebagian besar Ibu di Jepang berharap anak mereka menjadi orang yang dapat memiliki pendirian dan pendapat sendiri.

5. Fakta Terkait Pribadi Anak di Masa Depan

Ibu di Indonesia menilai bahwa anak adalah sosok yang mewarisi keturunan keluarga untuk masa depan, sosok yang akan mengurus orang tua di masa yang akan datang, dan sosok yang bisa mengabulkan cita-cita orang tua.

Seperti yang dipaparkan oleh Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, Dr. Sofia Hartati., M.Si, bahwa dari suku dan agama yang dianut sebagain besar masyarakat Indonesia, anak merupakan harapan orang tua dan penerus keluarga. Secara psikologis kehadiran anak dapat memberikan rasa aman karena saat mereka tua ada yang menjaga, merawat, dan memberi perhatian.

Sumber : liputan6.com

Sepuluh Pertimbangan Memilih Tempat Kursus untuk Anak



Setiap orang tua tentu ingin anaknya mendapatkan pendidikan sebaik mungkin. Salah satu cara yang ditempuh orang tua adalah memasukkan anaknya ke tempat kursus. Maraknya tempat kursus membuat orang tua perlu cermat memilih tempat kursus terbaik bagi sang buah hati. Berikut 10 pertimbangannya menurut survei Litbang KORAN SINDO.

01. Kualitas Pendidikan
Kualitas tempat kursus menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. Orang tua perlu melakukan survei sebelum memutuskan untuk memasukkan anakknya ke lembaga tertentu. Kualitas pengajar dan kurikulum sangat menentukan kualitas pendidikan yang diberikan.

02. Hasil Lulusan
Pertimbangan pemilihan kursus juga bisa dilatarbelakangi kualitas lulusan siswa-siswa yang pernah belajar dari lembaga tersebut. Sedikit banyak data yang bisa didapat soal kualitas lulusan, maka hal ini bisa semakin menguatkan keputusan orang tua.

03. Kredibiltas Lembaga
Sebagai sebuah lembaga pendidikan, faktor kredibilitas lembaga juga diperlukan untuk memastikan tempat kursus atau bimbel tersebut terpercaya. Kredibilitas ini juga penting dijadikan acuan untuk menghindari adanya tempat kursus ecek-ecek.



04. Biaya
Faktor biaya kursus tentu menjadi hal penting untuk diperhatikan. Meskipun tidak dimungkiri jika lembaga kursus bagus biasanya dipatok dengan harga cukup mahal. Tapi dengan banyaknya pilihan lembaga kursus saat ini, banyak pula alternatif lembaga yang bisa dipilih sesuai kemampuan finansial Anda.

05. Sesuai Kebutuhan Anak
Sebelum mendaftarkan anak ke tempat kursus atau bimbel, perhatikanlah karakter anak dan kebutuhannya terlebih dahulu. Beberapa responden memilih untuk mengkonsultasikannya terlebih dahulu pada lembaga tempat kursus. Bahkan mereka juga melibatkan pendapat anak mengenai tempat kursus yang diinginkan.

Baca juga ; Kemendibud Gembleng Ratusan Pengurus OSIS Pendidikan Karakter

06. Lokasi
Lokasi tempat kursus yang berada di tempat strategis memiliki nilai tambahan tersendiri. Hal ini tentu membantu bagi orang tua yang bisa menunggu anaknya belajar sambil berjalan-jalan. Lokasi di tengah kota tentu bisa dijangkau dengan berbagai moda transportasi. Selain itu, tempat kursus yang dekat dengan restoran atau jajanan memudahkan anak untuk mengisi perut kosong sebelum belajar atau di waktu istirahat.

07. Sistem Belajar
Saat ini sudah banyak terdapat lembaga pendidikan non formal yang menawarkan berbagai metode pendidikan. Sebelum memutuskan, maka orang tua idealnya mencari tahu juga mengenai kurikulum atau metode pengajaran di tempat kursus. Kurikulum dengan metode pengajaran yang tepat akan membawa anak pada prestasi yang kita inginkan.

08. Fasilitas Tempat Kursus
Fasilitas tempat kursus ini juga menjadi hal penting untuk diperhatikan karena memiliki andil penting dalam proses belajar-mengajar. Saat ini tempat kursus sudah menggunakan AC (air conditioner) untuk mendukung kenyamanan belajar bagi anak. Perhatikan pula berapa lantai yang dimiliki dengan tangga atau lift di sebuah tempat kursus. Kenyamanan bisa membantu proses belajar mengajar lebih mudah tanpa gangguan teknis.

09. Jarak dari Rumah ke Tempat Kursus
Memilih tempat kursus yang berada tidak jauh dari lokasi rumah Anda adalah yang terbaik. Selain menghemat waktu, juga memudahkan anak pergi ke tempat kursus. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, jika anak sudah cukup besar, anak bisa pergi dan pulang sendiri tanpa perlu diantar oleh orang tua.

10. Rekomendasi
Kualitas sebuah lembaga kursus bisa diketahui melalui rekomendasi orang lain. Semakin banyak rekomendasi positif, maka kemungkinan bahwa lembaga tersebut kredibel semakin besar.


Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1328976/144/sepuluh-pertimbangan-memilih-tempat-kursus-untuk-anak-1533791185

Kemendibud Gembleng Ratusan Pengurus OSIS Pendidikan Karakter

Sebanyak 272 pelajar yang juga menjadi pengurus OSIS diundang Kemendikbud menjalani kegiatan kepemimpinan di Kawah Kepemimpinan Pelajar (KKP). Kegiatan ini berlangsung selama sepekan

Jakarta - Sebanyak 272 pelajar yang juga menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjalani kegiatan kepemimpinan di Kawah Kepemimpinan Pelajar (KKP). Pemerintah ingin para pelajar ini menjadi calon pemimpin bangsa.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, melalui KKP ini menjadi ladang panen bagi negara untuk menghasilkan generasi emas penerus bangsa yang akan memimpin bangsa. ''Jadi pada 30 tahun mendatang kalian akan menjadi pemimpin. Pepatah mengatakan student today, leader tomorrow,'' katanya saat pembekalan peserta KKP di gedung Kemendikbud, Jumat (4/5/2018).

Muhadjir menjelaskan, pengalaman dalam kegiatan KKP dapat menjadi investasi masa depan yang berguna. Maka dia berharap kepada siswa untuk menggali pengalaman sebanyak banyaknya dengan berbagai kegiatan di sekolah dan organisasi OSIS serta kegiatan ekstra kurikuler lainnya seperti Pramuka, kegiatan sanggar seni, olahraga, dan lain-lain.

Dia mengutarakan, istilah kawah merupakan kepundan sebagai tempat penempaan, yang mana peserta diberi pelatihan dan penempaan kepemimpinan. "Maka jadilah kalian pemimpin masa depan yang cinta Tanah Air kelak semoga di antara kalian ada yang menjadi calon Presiden atau menteri yang akan datang," ujarnya.


Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad menambahkan, KKP berlangsung sepekan. KKP merupakan salah satu dari sekian banyak wadah pembinaan kesiswaan yang berorientasi pada penumbuhan dan penguatan karakter siswa.

Aktivitas yang dirancang dalam kegiatan ini mencakup pelatihan kepemimpinan, kedisiplinan, penanaman nilai kebangsaan, kreativitas, dan kepedulian. KKP diharapkan mampu melatih siswa untuk menghimpun ide, berpikir kritis, hingga melahirkan solusi kreatif, dan inovatif terhadap permasalahan yang dihadapi dirinya dan lingkungan.

Tidak kalah penting dari tujuan KKP ialah tumbuhnya semangat kebangsaan serta kebersamaan antarpeserta yang berasal dari berbagai pelosok Tanah Air. Sekaligus, KKP menjadi wadah penyaluran religius bagi peserta didik untuk mengaktualisasikan diri menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Saya yakin jika hal tersebut ada pada diri setiap peserta didik saat ini, maka generasi emas Indonesia pada 2045 bukan sekadar angan-angan. Pesan saya kepada 272 orang, dari 4,5 juta siswa Indonesia yang terpilih, agar perkuat diri terutama literasi kita dalam kemampuan untuk memilih, memilah dan menggunakan informasi secara tepat untuk Indonesia yang lebih maju," kata Hamid.

Direktur Pembinaan SMA Kemendikbud Purwadi Sutanto menambahkan, peserta mesti kreatif dan bekerja keras serta cerdas. "Karena itu kita harus lebih bekerja keras dan cerdas untuk penggemblengan diri agar menjadi orang yang memiliki karakter kuat, terlatih dan tangkas. Mempersiapkan generasi unggul yang memiliki karakter hebat, literasi hebat, kompetensi hebat dengan harapan mereka menjadi anak-anak yang tangguh, sehingga nantinya akan menjadi para pemimpin bangsa Indonesia yang berkarakter," tandasnya. 

Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1302993/144/kemendibud-gembleng-ratusan-pengurus-osis-pendidikan-karakter-1525415936

Sebanyak 4.143 SD Terapkan Pendidikan Karakter


Jakarta - Sebanyak 4.143 sekolah dasar (SD) telah menerapkan pendidikan karakter. Pemerintah menilai jumlah ini masih sedikit sehingga harus terus diperluas lagi. Saat ini sudah ada 1.084 sekolah pelaksana Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di bawah pembinaan direktorat SD.

Selanjutnya ada 3.059 sekolah model yang dikembangkan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). Direktur Pembinaan SD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Khamim menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan jumlah SD di Indonesia yang mencapai 148.244 unit maka, jumlah pelaksana PPK di SD memang masih terbilang kecil.

Ke depan pemerintah pusat akan memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada pemerintah daerah untuk mendiseminasikan atau menyebarkan materi PPK yang sudah diajarkan di sekolah pelaksana ke sekolah lain yang belum menerapkan PPK. "Harapan kami melalui APBD dinas pendidikan kabupaten kota bisa mendiseminasikan contoh-contoh baik ke sekolah lain. Kita terus mendorong pemda juga terus menginisiasi PPK," katanya saat diskusi Sinergi Tripusat Pendidikan Memperkuat Karakter Bangsa di era Revolusi Industri 4.0 di kantor Kemendikbud, Jakarta, kemarin.



Pemerintah juga akan menambah sekolah model atau sekolah rujukan di setiap kabupaten minimal satu unit. Penambahan sekolah rujukan ini akan dibangun di daerah terpencil. Diharapkan akan semakin bertambah sekolah rujukan yang membina antara empat hingga lima sekolah di sekitarnya.

Menurut Khamim, PPK ini penting sebab anak-anak kita tidak cukup dibekali dengan kemampuan ilmu pengetahuan tanpa dibarengi dengan kekuatan spiritual dan karakter. Pendidikan karakter tersebut akan menjadi bekal bagi anak di masa depan sehingga mampu meningkatkan daya saing bangsa. "PPK menjadi bagian amanah yang harus dituntaskan sehingga kedepan anak Indonesia akan memiliki daya saing yang sejajar dengan bangsa lain," katanya.

Director & Chief Financial Officer Trakindo Setio A Dewo mengatakan, revolusi Industri 4.0 merupakan sistem yang mengintegrasikan dunia online dengan produksi industri, maupun bidang lainnnya yang menggunakan teknologi digital dan otomatisasi.

Karena itu perkembangan revolusi industri harus menjadi perhatian serius dari semua pihak. Terutama untuk pengembangan karakter anak sebagai generasi penerus bangsa. Kata dia, kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajar anak berpikir positif, menyaring informasi informasi yang baik dan melatih pola pikir anak.

Dewo menambahkan, pihaknya mendukung terwujudnya sinergi Tripusat Pendidikan untuk memperkuat karakter bangsa dengan program pendidikan 4.0. Trakindo juga meluncurkan buku Bangun Karakter Bangsa untuk memperkuat komitmen dalam mendukung program pemerintah yaitu gerakan penguatan pendidikan karakter.

Ketua Harian Komisi Nasional untuk UNESCO Arief Rachman menambahkan, pembentukan karakter merupakan proses yang berlangsung lama. Anak-anak harus mendapatkan pendidikan karakter sejak dini dengan didukung oleh lingkungan yang berkarakter. "Perwujudan sinergi antara sekolah, keluarga dan masyarakat yang berjalan baik dapat menjadikan perkembangan karakter optimal bagi anak. Melalui sinergi ini diharapkan dapat dapat menumbuhkan pemahaman bagi ilmu yang didapat di sekolah akan diaktualisasikan di masyarakat," katanya.

Dia menuturkan, tantangan pendidikan dalam  penerapan pendidikan karakter ialah pendidikan lebih mengunggulkan otak dibanding watak. Selain itu ukutan sekolah unggulan ialah masih sekolah dengan nilai tertinggi atau rangking. Selain itu kejujuran juga belum berhasil menjadi faktor determinan dalam menentukan keberhasilan anak dalam belajar.

Arief juga menuturkan, muatan kurikulum sangat komprehensif dan belum semua guru memiliki keterampilan memilih materi. Selain itu juga motivasi pendidik masih sangat struktural esensial sehingga belum fungsional. "Dominasi sosial media dan gadget juga menjadi tantangan pendidikan. Selain juga ada sumber berita atau kontek yang tidak jelas sehingga menimbulkan hoax," jelasnya.

Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/sebanyak-4143-sd-terapkan-pendidikan-karakter-